A. Latar Belakang Munculnya Imperialisme dan Kolonialisme di Indonesia
Pencarian Daerah Baru
Bangsa-bangsa Eropa ke Dunia Timur, termasuk Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari peristiwa-peristiwa di Eropa pada abad ke-18-19.
Ekspansi Bangsa Eropa
Ekspansi bangsa-bangsa Eropa ke seluruh dunia menimbulkan kolonialisme dan imperialisme Eropa dan bangsa-bangsa di Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.
Bangsa Eropa menyebut zaman itu sebagai “the Age of Reconnaissance” atau Zaman Eksplorasi dan penjajahan awal. Zaman ini merujuk pada migrasi ke seluruh dunia. Bangsa yang melakukan kolonisasi disebut kaum kolonis, sedangkan zamanya disebut zaman kolonial, sistem politiknya disebut kolonialisme.
Faktor-faktor yang mendorong bangsa-bangsa Eropa melakukan penjajahan:
1. Semangat penakluk (reconquista) terhadap orang-orang yang beragama islam.
2. Jatuhnya Konstantinopel, ibu kota imperium Romawi Timur ke tangan Dinasti Usmani (Ottoman) Turki yang berada di bawah Sultan Muhammad II (1451-1481) pada 1453.
3. Adanya rasa ingin tahu akan alam semesta, keadaan geografi, bangsa-bangsa.
4. Adanya keinginan untuk mendapatkan rempah-rempah.
5. Kisah penjelajahan Marcopolo (1254-1324), seorang pedagang dari Venesia, Italia, ke Cina yang dituangkan dalam buku “Book of Various Experiences.”
6. Ingin mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya.
1. Penjelajahan Bangsa Portugis
Diawali dengan penjelajahan Prince Henry (1394-1460) yang menjelajah pantai barat Afrika. Dan memperoleh emas dari Afrika dan menjadikan jalur Portugal dan pantai Afrika Barat sebagai jalur perdagangan mereka.
Pada 1487, Baroomeus Dias mencapai ujung selatan Afrika Selatan (Tanjung Harapan). Kemudian diteruskan oleh seorang marinir Portugal bernama Vasco da Gama.
Pelabuhan-pelabuhan penting yang dikuasai bangsa Portugis akhirnya diserahkan pada kekuasaan takhta Portugis. Ekspedisi Pedro Alvares Cabral ke Brazil pada 22 April 1500 merintis kekuasaan bangsa Portugis atas wilayah Amerika Selatan.
Para penguasa dan pedagang lokal di daerah yang didatanginya dan yang tidak mau tunduk pada Portugis diserang dan ditaklukkannya. Demikian juga dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya yang semula dikuasai para pedagang Islam dari Arab, India, Melayu, Maluku, dan Malaka ditaklukkan dan dikuasai Portugis. Pelabuhan Malaka direbut pada 1511. Pelabuhan-pelabuhan di Maluku sebagai pusat penghasil rempah-rempah, dikuasai Portugis 1512.
Dengan penguasaan langsung daerah-daerah yang ditaklukkannya maka negara Portugis mulai merintis politik imperialisme, yaitu politik untuk menjadikan daerah yang dilakukannya sebagai bagian dari imperium seberang lautan Portugis, dengan dikuasai langsung oleh pemerintah pusat di ibu kota Lisabon, Portugis.
2. Penjelajahan Bangsa Spanyol
Bangsa Spanyo menyusul bangsa Portugis melakukan penjelajahan dunia dan menjadi pelopor kolonialisme. Antara 1492-1502, Christopher Colombus (1451-1506) melakukan empat kali pelayaran ke Amerika dan menemukan Kepulauan Karibia.
Niat untuk mencari jalur pelayaran ke Asia terus dilakukan oleh bangsa Spanyo. Penguasa Spanyol, Charles V, menugaskan Ferdinand Magellan (1480-1521) untuk menemukan jalur langsung ke kepulauan Maluku sebagai pusat penghasil rempah-rempah. Pelayaran Magellan berpengaruh besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan membuktikan teori Colombus bahwa dunia ini bulat.
Penjelajahan bangsa Spanyo ke benua Amerika diikuti dengan penaklukan dan kolonisasi.
3. Penjelajahan Bangsa Belanda
Bangsa Belanda menyusul bangsa Portugis dan Spanyo melakukan penjelajahan dunia sampai ke Kepulauan Indonesia. Pertengahan abad ke-16, Belanda sedang bersaing dengan bangsa Portugal dan Spanyol. Belanda di bawah jajahan Spanyo berusaha untuk merdeka.
Para perualang Belanda beruntung karena mereka memperoleh informasi perjalanan bangsa Portugis di Asia dan Indonesia dari Jan Hugyen van Linschoten, orang Belanda yang ikut bersama orang-orang Portugis ke Indonesia. Tiga buah kapal di antaranya, mampu mencapai pelabuhan Banten pada 1596.
B. Pertemuan Awal Bangsa Indonesia dengan Bangsa Eropa
1. Pertemuan Bangsa Indonesia dengan Bangsa Portugis
a. Pertemuan Di Goa dan Malaka
Pertemuan bangsa Indonesia dengan bangsa Portugis (sebutan untuk bangsa) sebenarnya bukan hanya terjadi saat Portugal (sebutan negara) menaklukkan Malaka pada 1511, melainkan sejak Vasco da Gama tiba di India pada 1497 dan sejak Diego Lopez Sequeira tiba di Malaka pada 1509.
Demikian juga para pedagang Indonesia menyaksikan kedatangan armada laut Alfonso de Albuquerque (1459-1511) di Goa India dan merebut kota pelabuhan tersebut pada 1510. Para pedagang Indonesia di Malaka serta pemerintahan Kerajaan Malaka tidak menyangka bahwa serangan ke Goa bukan yang terakhir. Ketika pasukan Albuquerque menyerang Malaka Apri 1511, Malaka tidak siap menghadapinya.
Dengan jatuhnya Malaka, para pedagang Indonesia merasa terancam oleh monopoi perdagangan yang diterapkan bangsa Portugis di pelabuhan tersebut. Keunggulan teknologi meriam bangsa Portugis yang meliputi teknik pelayaran dan militer segera dipelajari oleh bangsa Indonesia.
b. Pertemuan di Maluku
Setelah Malaka direbut, bangsa Indonesia mengetahui bahwa tujuan kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia adalah untuk menguasai perdagangan rempah-rempah sekaigus menguasai daerah penghasilnya.
Kerajaan yang melakukan kerja sama dengan bangsa Portugis adalah Hitu dan Ternate. Namun, kerja sama menjadi tegang karena Potugis melakukan kristenisasi terhadap kerajaan yang beragama Islam dan adanya sikap orang-orang Portugis yang seringkali tidak menghormati adat istiadat setempat.
Sikap gigih menentang Portugis terus dipertahankan oeh rakyat Ternate terutama setelah tampilnya Sultan Baabullah (1570-1583) dan putranya Sultan Said. Bangsa Indonesia di Maluku diperkenalkan dengan agama Katolik oleh bangsa Potugis. Indonesia juga diperkenalkan budaya Portugis.
2. Pertemuan Awal bangsa Indonesia dengan Bangsa Belanda
a. Pertemuan di Jawa
Setelah bersaing dengan bangsa Portugis, bangsa Indonesia juga harus berhadapan dengan bangsa Eropa lainnya, yaitu bangsa Belanda. Oleh karena bersikap kasar dan melakukan penghinaan terhadap penduduk di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahinya, dia kehilangan banyak awak.
b. Pertemuan di Maluku
Petualang dari Belanda akhirnya datang juga di Maluku. Akibat dari kekayaan rempah-rempah yang dimilikinya, warga Maluku harus menerima banyak kapal dagang Belanda, baik yang berminat untuk berdagang ataupun yang ingin menguasai sumbernya.
C. Munculnya dan Berkembangnya Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia
1. Jatuhnya Jaringan Perdagangan Islam di Indonesia
Jaringan perdagangan Indonesia, terutama yang diperlopori oleh para pedagang Islam, mengalami kehancuran akibat monopoli perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Portugis dan Belanda.
Hak octrooi yang diberikan kepada VOC yaitu:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan.
b. VOC memperoleh hak untuk mencetak dan mengeluarkan uang sendiri.
c. VOC dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia.
d. VOC berhak mengadakan perjanjian.
e. VOC berhak memaklumkan perang dengan nama lain.
f. VOC berhak menjalankan kekuasaan kehakiman.
g. VOC berhak mengadakan pemungutan pajak.
h. VOC berhak memiliki angkatan perang sendiri.
i. VOC berhak mengadakan pemerintahan sendiri.
Akibat hak-hak monopoli yang dimilikinya, VOC bisa memaksakan kehendaknya pada perusahaan-perusahaan perdagangan Indonesia. Untuk mempertahankan monopoli perdagangannya, kekuatan militer pun ditingkatkan.
VOC mengalami kemunduran yang disebabkan: merajalelanya korupsi pada para pegawai VOC kuatnya persaingan di antara kongsi-kongsi perdagangan lain terlalu banyak biaya untuk menumpas berbagai pemberontakan rakyat dan meningkatnya kebutuhan untuk gaji pegawai VOC.
Menuru Ricklefs, kemunduran VOC disebabkan:
“Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda, tetapi sebagian besar anggotanya bukanlah orang Belanda. Para petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelek dari seluruh Eropalah yang mengucapkan sumpah setia pada VOC. Ketidakberdayagunaan, ketidakjujuran, nepotisme, dan alakoholisme tersebar luas dikalangan anggota VOC.”
Hal itu pula yang melatarbelakangi sikap operasional VOC terhadap bangsa pribumi yang cenderung kejam, sewenang-wenang, dan tanpa kompromi.
2. Indonesia pada Masa Pemerintahan Herman Willem Daendels (1808-1811)
Indonesia yang terletak jauh dari kawasan Eropa ternyata pernah menjadi bagian dari konflik antarnegara Eropa. Pemerintah Kerajaaan Belanda yang sudah menjadi bagian dari Imperium Prancis harus berhadapan dengan Inggris, musuh Napoleon Bonaparte yang belum dapat ditaklukkan.
Sementara itu, di Indonesia, kedudukan Belanda yang sudah jatuh ke Prancis sangant terancam. Untuk kepentingan perang Prancis dengan Inggris, bangsa Indonesia harus menghadapi penderitaan di bawah pemerintahan Daendels. Untuk membiayai proyek tersebut, rakyat dibebani dengan pajak-pajak tertentu yang cukup besar. Dengan demikian, sistem wajib penyerahan model VOC diteruskan oleh Daendels.
Kehidupan keraton di Jawa juga terancam akibat ulah Daendels. Demikian juga dengan intervensinya terhadap kehidupan di Yogyakarta yang menimbulkan keresahan di kalangan keraton.
3. Indonesia pada Masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816)
Serangan terhadap kekuasaan Imperium Prancis di Indonesia terbukti pada 1811. Pada 8 Agustus 1811, 60 kapal Inggris melakukan serangan ke Batavia. Akhirnya Batavia dan daerah-daerah sekitanya jatuh ke tangan Inggris pada 26 Agustus 1811.
Mungkin tidak disadari bahwa pada masa penjajahan Inggris wilayah Indonesia secara ekonomis dan politis pernah bersatu dengan wilayah India. Raffles lebih bersifat liberal dalam menjalankan pemerintahannya.
Beberapa tindakan Raffles:
a. Menghapuskan sistem kerja paksa (rodi), kecuali untuk daerah Priangan dan Jawa Tengah;
b. Menghapuskan pelayaran hongi dan segala jenis tindak pemaksaan di Maluku;
c. Melarang adanya perbudakan;
d. Menghapus segala bentuk penyerahan wajib dan hasil bumi;
e. Melaksanakan sistem landrente stelsel (sistem pajak bumi), dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Membagi Pulau Jawa menjadi 16 Keresidenan;
b) Mengurangi kekuasaan para bupati;
c) Menerapkan sistem pengadilan dengan sistem juri.
Raffle menggambarkan dirinya sebagai seorang pembaru yang hebat(dalam buku History of Java yang ditulisnya).
D. Perubahan Ekonomi, Demografi, dan Sosial Budaya da Berbagai Daerah pada Masa Kolonial
1. Perubahan Ekonomi
Setelah kekuasaan Inggris berakhir, Indonesia kembali dikuasai oleh Belanda. Setelah mendapat kritikan dari kaum humanis dan kaum demokrat di negeri Belanda dan di Hindia Belanda, akhirnya Sistem Tanam Paksa dihapuskan pada 1870.
Akibat dari dilaksanakannya Sistem Ekonomi terbuka bangsa-bangsa diluar Belanda, seperti Inggris, Belgia, Prancis, Amerika Serikat, Cina, dan Jepang berdatangan ke Indonesia. Dengan adanya Sistem Ekonomi Terbuka, perkebunan di Jawa dan Sumatra berkembang dengan pesat.
Dengan demikian, eksploitasi terhadap penduduk pribumi tetap berjalan, walaupun dengan menggunakan sistem ekonomi modern, Sistem Ekonomi Terbuka. Pada 1881, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Koelie Ordonantie yang mengatur para kuli.
Kuli Ordonantie mendapat kecaman dari Amerika Serikat. Masuknya bangsa Eropa ke perairan Indonsesia terisolasi di laut sehingga kehidupan berkembang ke daerah pedalaman. Dengan feodalisme, rakyat pribumi, terutama di wilayah-wilayah pedesaan, dipaksa untuk tunduk dan paruh terhadap para tuan tanah Belanda dan Timur Asing yang dijaga oleh para centeng penguasa lokal/pribumi.
Penderitaan penduduk Indonesia dikritisi oleh kaum humanis Belanda. Menurut Van Devender ada tiga cara untuk menyehatkan, mencerdaskan dan memakmurkan rakyat Indonesia, yakni memajukan pengajaran (edukasi), memperbaiki pengairan (irigasi), dan melakukan perpindahan penduduk (transmigrasi). Gagasan ini disebut Politik etis.
Pada awalnya, pemerintah Belanda tidak langsung menerima gagasan Van Deventer, tetapi lambat laun dijalankan juga. Meskipun hasil Politik Etis lebih diarahkan untuk kepentingan kolonial Belanda, sebagian rakyat Indonesia memperoleh manfaat.
2. Komersialisasi Ekonomi dan Perubahan Sosial di Pedesaan dan Perkotaan
Setelah Sistem Tanam Paksa dihapuskan pada 1870, pemerintah kolonial menerapkan sistem ekonomi baru yang lebih liberal. Dalam sistem perburuhan dikeluarkan aturan yang ketat.
Walaupun Wajib kerja dihapuskan sesuai dengan semangat liberalisme, pemerintah kolonial menetapkan pajak kepala pada 1882. Di bidang ekonomi, penetrasi kapitalisme sampai pada tingkat individu, baik di pedesaan maupun di perkotaan.
3. Perubahan Demografi
a. Pendidikan dan Mobilitas Sosial di Berbagai Daerah
Pendidikan yang berkembang di Indonesia pada abad ke-19 menggunakan sistem yang diselenggarakan oleh organisasi agama Kristen, Katolik, dan Islam.
Sistem Pendidikan Islam dilaksanakan melalui pondok pesantren dengan kurikulum yang terbuka serta staf pengajar yang berasal dari para kiai. Bersamaan dengan berkembangnya sistem pendidikan pesantren berkembang pula sistem pendidikan Barat.
Sistem pendidikan yang dijalankan pemerintah kolonial menggunakan sistem Barat dengan menyediakan tempat berupa sekolah, kurikulum serta guru dengan jadwal teratur. Bahasa yang digunakan dalam sekolah gubernemen adalah bahasa Sunda, Jawa, Madura atau Melayu, bergantung dari asal lokasi sekolah tersebut.
Antar 1873-1883 dicipai kemajuan dalam bidang pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa dan guru.
Menurut Sartono Kartodirjo, perkembangan pendidikan abad ke-19 dipengaruhi oleh kecenderungan politik dan budaya:
1) Pengajaran bersifat netral dan tidak didasarkan atas agama tertentu. Hal ini dipengaruhi oleh paham humanis dan liberalis di negara Belanda.
2) Bahasa pengantar diserahkan kepada sekolah masing-masing sesuai kebutuhan. Misalnya, jika murid pribumi menghendaki bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya, sekolah harus memenuhinya.
3) Sekolah-sekolah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis pekerjaan kejuruan.
4) Sekolah pribumi diarahkan agar lebih berakar pada kebudayaan setempat. Oleh karena itu, bahasa daerah dijadikan sebagai bahasa pengantar.
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pangreh praja (birokrasi pemerintah), didirikan hoofdenschool di Bandung, Magelang, Probolinggo, dan Tondano pada 1878. Di tingkat perguruan tinggi didirikan sekolah pertanian di Bogor, sekolah dokter hewan di Surabaya, sekolah bidan di Weltervreden, dan sekolah mantri cacar di Jakarta yang kemudian berubah menjadi Sekolah Dokter Jawa.
Memasuki abad ke-20, sejarah Indonesia ditandai dengan semakin banyaknya orang terpelajar yang mendapat pendidikan Belanda.
b. Mobilitas Penduduk pada Akhir Abad Ke-19 dan Awal Abad Ke-20
Mobilitas penduduk mempunyai pengertian pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain.
Sebab-sebab terjadinya:
1) Sistem ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah kolonial melalui Tanam Paksa serta sistem kapitalisme menurut Undang-Undang Agraria pada 1870 mengakibatkan terjadinya mobilitas tenaga kerja dari tempat tinggal mereka ke daerah perkebunan, baik yang berada dalam satu pulau maupun antar pulau.
2) Dibangunnya jaringan jalan raya, jalan kereta api, serta perhubungan laut dengan menggunakan kapal api.
3) Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota. Pada akhir abad ke19 lahirlah kota-kota baru di pedalaman serta pesisir pantai.
4) Pembangunan pendidikan telah mempercepat mobilitas penduduk .
4. Kehidupan Keagamaan dan Sosial Budaya
a. Kebijakan Pemerintah Kolonial terhadap Kehidupan Agama
Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia berkaitan dengan penyebaran dua aliran besar agama yaitu, Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Kedatangan agama Protestan di Indonesia dibawa oleh para Zending atau penyebar Protestan, terutama orang-orang Belanda yang tergabung dalam Nederlandsch Zendelings Genootschap (NZG).
Pada Masa Kolonial, pemerintah Belanda mengeluarkan kebijaksanaan yang menghambat perkembangan agama, terutama islam. Kebijakan di bidang sosial-budaya keagamaan dianggap tidak membahayakan kedudukan pemerintah kolonial. Akibat dari kebijakan pemerintah kolonial dalambidang keagamaan, terutama Islam, telah menimbulkan kebangkitan Islam yang ditandai dengan munculnya pemikiran-pemikiran pembaruan dalam Islam.
b. Kedudukan dan Kehidupan Perempuan pada Masa Kolonial
Kedudukan kaum perempuan pada abad ke-19 masih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki. Keterlibatan kaum wanita dalam pergerakan nasional pada mulanya hanya berupa pergerakan sosial yang memperjuangkan kedudukan wanita dalam masyarakat.
Pergerakan emansipasi wanita dipelopori oleh R.A. Kartini, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis. Pada abad ke-19, tradisi pembelengguan perempuan masih cukup kuat. Menurut Wiriaatmadj, Tradisi pingitan tersebut lebih menonjol pada anak gadis dari golongan bangsawan atau priyayi.
Setelah dibukanya daerah perkebunan menurut sistem ekonomi kapitalis, kegiatan prostitusi di tempat itu makin marak. Penderitaan yang berat yang dialami kaum perempuan di perkebunan semakin diperkuat oleh diberlakukannya peraturan yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Linda Crystanty menyatakan bahwa kedatangan para pria Eropa sebagai pemilik modal di daerah perkebunan yang tidak diikuti istri-istri mereka berpengaruh terhadap kehidupan perempuan pribumi di lingkungan perkebunan.
Melaluinyai, orang Eropa dapat lebih mudah mempelajari kebudayaan pribumi. Namun demikian, posisi mereka tetap rawan. Sepeningga tuannya, para nyai dihadapkan pada pilihan sulit. Menurut Cahyo Budi Utomo, secara biologis ada dua jenis gerakan perempuan pada masa-masa awal abad XX, yakni organisasi lokal kedaerahan dan organisai keagamaan.
Putri Mardiko merupakan organisasi keputrian tertua yang merupakan bagian dari Budi Utomo. Berdiri pada 1912. Tujuan : memberikan bantuan, bimbingan, dan penerangan pada gadis pribumi dalam menuntut pelajaran dan menyatakan pendapat di muka bumi.
Setalah Putri Mardiko berdiri, lahirlah berbagai organisasi perempuan, baik yang dibentuk sendiri oleh kaum perempuan maupun organisai yang beranggotakan kaum pria. Salah satu organisai keagamaan yang memerhatiakan masalah kedudukan perempuan adalah organisai Aisyiyah.
Menurut Sukanti Suryocondro dalam bukunya yang ditulis oleh T.O. Ihronmi yang berjudul Kajian Perempuan dalam Pembangunan (1995), organisai-organisasi tersebut bergerak dalam bidang sosial dan kultural, yaitu memperjuangkan nilai-nilai beru dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
E. Perlawanan daerah Menentang Dominasi Asing
Kedatangan bangsa Barat (Potugis, Spanyol, Belanda) yang diikuti dengan jatuhnya bangsa Indonesia pada bangsa-bangsa tersebut menimbulkan reaksi.
1. Perlawanan Sebelum Tahun 1800
Perlawanan bangsa Indonesia sebelum tahun 1800 ditandai dengan perang atau perlawanan langsung terhadap kekuasaan bangsa barat. Perlawanan tersebut juga ditandai dengan persaingan diantara kerajaan-kerajaan Indonesia dalam rangka memperebutkan hegemoni di kawasan tersebut.
a. Perlawanan Rakyat Maluku
Upaya rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun maupun Sultan Baabullah (1575) sejak kedatangan bangsa Portugis di kawasan itu pada 1512 tidak berhasil.
b. Perlawanan Rakyat Demak
Sama halnya perlawanan rakyat Demak yang dipimpin oleh Dipati Unus terhadap kekuatan Portugis di Malaka. Perlawanan ini pun tidak mendapat dukungan dari kerajaan-kerajaan di kawasan Sumatra, Jawa, dan Kalimatan.
c. Perlawanan Rakyat Mataram
Kerajaan Mataram di Jawa juga melakukan hal yang sama. Sultan Agung mempunyai cita-cita untuk mempersatukan wilayah Pulau Jawa dalam kekuasaannya berusaha mengalahkan VOC di Batavia (Jakarta).
d. Perlawanan Rakyat Banten
Konflik dalam urusan kerajaan serta persaingan dalam takhta kerajaan juga menyebabkan perlawanan terhadap kekuasaan Barat mengalami kegagalan.
e. Perlawanan Rakyat Makassar
Di Pulau Sulawesi, perlawanan untuk mengusir kekuatan VOC juga tidak berhasil. Untuk memperkuat kedudukannya di Sulawesi, Sultan Hasanuddhin menduduki Sumbawa sehingga jalur perdagangan di Nusantara bagian timur dapat dikuasainya.
Untuk menghadapi Sultan Hasanuddin, Belanda meminta bantuan dari Aru Palaka yang bersengketa dengan Sultan Hasanuddin. Dan Makassar jatuh ke tangan Belanda dari Sultan Hasanuddin harus menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667.
f. Perlawanan Untung Surapati
Pemberontakan Untung Surapati berlangsung pada 1686 sampai dengan 1706. Pada 1703, Sunan Amangkurat II meninggal, kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat III.
Paman Sunan Amangkurat III yang bernama Pangeran Puger menginginkan takhta untuk menjadi raja di Mataram. Setelah itu, dimulailah peperangan antara Sunan Pakubuwono I dan Untung Surapati yang dibantu oleh Sunan Amangkurat III. Pada 1706, VOC akhirnya berhasil melumpuhkan kekuasaan Untuk Surapati di Kartasura.
2. Perlawanan Sesudah Tahun 1800
Tidak banyak perbedaan antara latar belakang serta karakteristik perlawanan terhadap kekuasaan Barat sebelum tahun 1800 dan setelah tahun 1800.
a. Perlawanan Sultan Nuku (Tidore)
Sultan Nuku yang merupakan raja dari Kesultanan Tidore memimpin perlawanan rakyatnya terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Untuk menghadapi Belanda, dia mengadakan hubungan dengan Inggris dengan tujuan meminta bantuan dan dukungan.
b. Perlawanan Pattimura (1817)
Perlawanan yang dipimpin oleh Pattimura dimulai dengan penyerangan terhadap Benteng Duurstede di Saparua dan berhasil merebut benteng tersebut dari tangan Belanda. Akhirnya, Pattimura berhasil ditangkap dalam suatu pertempuran dan pada 16 Desember 1817 Pattimura dan kawan-kawannya dihukum mati di tiang gantung.
c. Perang Paderi (1821-1837)
Perang Paderi dilatarbelakangi konflik antara kaum agama dan tokoh-tokoh adat Sumatra Barat. Pertentangan ini kemudian berkembang menjadi perang saudara. Pada 1819, Belanda menerima Padang dan daerah sekitarnya dari Inggris.
Pertempuran pertama antara Kaum Paderi dan Belanda terjadi pada April 1821 di daerah Sulit Air, dekat Danau Singkarak, Solok. Ketika terjadi Perang Diponegoro, pihak Belanda menarik sebagian besar pasukannya dari Sumatra Barat dan sementara waktu menunda penyerangannya pada Kaum Paderi.
Pada 25 Oktober 1833, Belanda mengeluarkan maklumat yang disebut Plakat Panjang. Baru pada 25 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol tiba di Palupuh untuk berunding. Namun, Belanda berkhianat dengan menangkap Tuanku Imam Bonjol dan membuangnya ke Cianjur, kemudian Ambon, dan terakhir ko Lota dekat Manado. Wafat usia 92, dimakam di Tomohon, Sulawesi Utara.
d. Perang Diponegoro (1825-1830)
Sebab : rasa tidak puas yang hampir merata di kalangan masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah Belanda diwilayah Yogyakarta. Pemerintah kolonial Belanda bermaksud membuat jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang.
Pangeran Diponegoro dan pasukannya membangun pusat pertahanan di Selarong. Sampai 1826, pasukan Diponegoro berhasil membuat kemenangan. Sejak 1829, kekuatan Diponegoro mulai berkurang, banyak pengikut Diponegoro yang ditangkap ataupun gugur dalam pertempuran.
Jenderal de Kock memerintahkan Kolonel Cleerens untuk mencari kontak dengan Pangeran Diponegoro.
e. Perang Aceh
Seperti halnya pada zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Kerajaan Aceh mengalami kejayaan kembali pada abad ke-18 sampai abad ke-19. Oleh karena kemampuan diplomatik, kedudukan Aceh dihormati oleh dua kekuasaan kolonial yang berada di sekitar wilayah Aceh, yaitu Inggris dan Belanda melalui Traktat London pada 1824.
Melihat gelagat ini, Aceh mulai mencari bantuan dan dukungan ke luar negeri. Serangan kedua dilakukan Belanda pada Desember 1873 dan berhasil merebut istana Kerajaan Aceh. Pada 1891, Aceh kehilangan tokoh pejuangnya, yaitu Teuku Cik Ditiro.
Pada November 1902, Belanda mengkap keluarga Sultan Aceh. Belanda menganggap dengan menyerahnya Sultan Aceh, perlawanan rakyat telah selesai.
f. Perang Bali
Sebelum abad ke-19, Pulau Bali dikuasai oleh beberapa kerajaan kecil yang seluruhnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Klungkung. Pada 1844, perahu dagang milik Belanda terdampar di Prancak wilayah Kerajaan Buleleng dan terkena Hukum Tawan Karang yang memberi hak kepada penguasa kerajaan untuk menguasai kapal beserta isinya.
Pada serangan yang kedua (1849), paasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Mayor A.V. Michies dan Van Swieeten berhasil merebut benteng pertahanan terakhir Kerajaan Buleleng di Jagaraga, yang dikenal dengan nama Puputan Jagaraga.
Setelah Buleleng ditaklukkan, Belanda mulai menaklukkan kerajaan-kerajaan di Bali lainnya. Selain Puputan Jagaraga, puputan lain yang pernah terjadi di Bali.
g. Perang Banjarmasin
Sultan Adam menyatakan secara resmi hubungan antara Kesutanan Banjarmasin dan Belanda pada 1826. Sepeninggal Sultan Adam, di Kerajaan Banjarmasin terjadi perebutan kekuasaan yang menyebabkan terpecahnya keluarga kerajaan ke dalam tiga kelompok:
1) Kelompok Pangeran Tamjid Illah(cucu Sultan Adam) => mempunyai hubungan erat dengan Belanda.
2) Kelompok Pangeran Anom(putra Sultan Adam) => tindakannya sewenang-wenang.
3) Kelompok Pangeran Hidayatullah(cucu Sultan Adam)=> disenangi dan didukung oleh rakyat
Ditengah kekacauan, terjadilah Perang Banjarmasin pada 1889 yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Pada 1862. Pangeran Hihayatulla dapat ditangkap dan kemudian dibuang ke Cianjur. Perlawanan terjadi di Sumatra Utara dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja XII.
Walaupun satu-persatu kekuatan di daerah berhasil ditaklukkan Belanda, perlawanan kerajaan di Indonesia berlangsung hingga akhir abad ke-19, perlawanan kerajaan di Indonesia berlangsung hingga akhir abad ke-19, perlawanan kongsi Cina di Kalimantan Barat pada 1848-1859
Pencarian Daerah Baru
Bangsa-bangsa Eropa ke Dunia Timur, termasuk Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari peristiwa-peristiwa di Eropa pada abad ke-18-19.
Ekspansi Bangsa Eropa
Ekspansi bangsa-bangsa Eropa ke seluruh dunia menimbulkan kolonialisme dan imperialisme Eropa dan bangsa-bangsa di Asia, Afrika, Amerika, dan Australia.
Bangsa Eropa menyebut zaman itu sebagai “the Age of Reconnaissance” atau Zaman Eksplorasi dan penjajahan awal. Zaman ini merujuk pada migrasi ke seluruh dunia. Bangsa yang melakukan kolonisasi disebut kaum kolonis, sedangkan zamanya disebut zaman kolonial, sistem politiknya disebut kolonialisme.
Faktor-faktor yang mendorong bangsa-bangsa Eropa melakukan penjajahan:
1. Semangat penakluk (reconquista) terhadap orang-orang yang beragama islam.
2. Jatuhnya Konstantinopel, ibu kota imperium Romawi Timur ke tangan Dinasti Usmani (Ottoman) Turki yang berada di bawah Sultan Muhammad II (1451-1481) pada 1453.
3. Adanya rasa ingin tahu akan alam semesta, keadaan geografi, bangsa-bangsa.
4. Adanya keinginan untuk mendapatkan rempah-rempah.
5. Kisah penjelajahan Marcopolo (1254-1324), seorang pedagang dari Venesia, Italia, ke Cina yang dituangkan dalam buku “Book of Various Experiences.”
6. Ingin mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya.
1. Penjelajahan Bangsa Portugis
Diawali dengan penjelajahan Prince Henry (1394-1460) yang menjelajah pantai barat Afrika. Dan memperoleh emas dari Afrika dan menjadikan jalur Portugal dan pantai Afrika Barat sebagai jalur perdagangan mereka.
Pada 1487, Baroomeus Dias mencapai ujung selatan Afrika Selatan (Tanjung Harapan). Kemudian diteruskan oleh seorang marinir Portugal bernama Vasco da Gama.
Pelabuhan-pelabuhan penting yang dikuasai bangsa Portugis akhirnya diserahkan pada kekuasaan takhta Portugis. Ekspedisi Pedro Alvares Cabral ke Brazil pada 22 April 1500 merintis kekuasaan bangsa Portugis atas wilayah Amerika Selatan.
Para penguasa dan pedagang lokal di daerah yang didatanginya dan yang tidak mau tunduk pada Portugis diserang dan ditaklukkannya. Demikian juga dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya yang semula dikuasai para pedagang Islam dari Arab, India, Melayu, Maluku, dan Malaka ditaklukkan dan dikuasai Portugis. Pelabuhan Malaka direbut pada 1511. Pelabuhan-pelabuhan di Maluku sebagai pusat penghasil rempah-rempah, dikuasai Portugis 1512.
Dengan penguasaan langsung daerah-daerah yang ditaklukkannya maka negara Portugis mulai merintis politik imperialisme, yaitu politik untuk menjadikan daerah yang dilakukannya sebagai bagian dari imperium seberang lautan Portugis, dengan dikuasai langsung oleh pemerintah pusat di ibu kota Lisabon, Portugis.
2. Penjelajahan Bangsa Spanyol
Bangsa Spanyo menyusul bangsa Portugis melakukan penjelajahan dunia dan menjadi pelopor kolonialisme. Antara 1492-1502, Christopher Colombus (1451-1506) melakukan empat kali pelayaran ke Amerika dan menemukan Kepulauan Karibia.
Niat untuk mencari jalur pelayaran ke Asia terus dilakukan oleh bangsa Spanyo. Penguasa Spanyol, Charles V, menugaskan Ferdinand Magellan (1480-1521) untuk menemukan jalur langsung ke kepulauan Maluku sebagai pusat penghasil rempah-rempah. Pelayaran Magellan berpengaruh besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan membuktikan teori Colombus bahwa dunia ini bulat.
Penjelajahan bangsa Spanyo ke benua Amerika diikuti dengan penaklukan dan kolonisasi.
3. Penjelajahan Bangsa Belanda
Bangsa Belanda menyusul bangsa Portugis dan Spanyo melakukan penjelajahan dunia sampai ke Kepulauan Indonesia. Pertengahan abad ke-16, Belanda sedang bersaing dengan bangsa Portugal dan Spanyol. Belanda di bawah jajahan Spanyo berusaha untuk merdeka.
Para perualang Belanda beruntung karena mereka memperoleh informasi perjalanan bangsa Portugis di Asia dan Indonesia dari Jan Hugyen van Linschoten, orang Belanda yang ikut bersama orang-orang Portugis ke Indonesia. Tiga buah kapal di antaranya, mampu mencapai pelabuhan Banten pada 1596.
B. Pertemuan Awal Bangsa Indonesia dengan Bangsa Eropa
1. Pertemuan Bangsa Indonesia dengan Bangsa Portugis
a. Pertemuan Di Goa dan Malaka
Pertemuan bangsa Indonesia dengan bangsa Portugis (sebutan untuk bangsa) sebenarnya bukan hanya terjadi saat Portugal (sebutan negara) menaklukkan Malaka pada 1511, melainkan sejak Vasco da Gama tiba di India pada 1497 dan sejak Diego Lopez Sequeira tiba di Malaka pada 1509.
Demikian juga para pedagang Indonesia menyaksikan kedatangan armada laut Alfonso de Albuquerque (1459-1511) di Goa India dan merebut kota pelabuhan tersebut pada 1510. Para pedagang Indonesia di Malaka serta pemerintahan Kerajaan Malaka tidak menyangka bahwa serangan ke Goa bukan yang terakhir. Ketika pasukan Albuquerque menyerang Malaka Apri 1511, Malaka tidak siap menghadapinya.
Dengan jatuhnya Malaka, para pedagang Indonesia merasa terancam oleh monopoi perdagangan yang diterapkan bangsa Portugis di pelabuhan tersebut. Keunggulan teknologi meriam bangsa Portugis yang meliputi teknik pelayaran dan militer segera dipelajari oleh bangsa Indonesia.
b. Pertemuan di Maluku
Setelah Malaka direbut, bangsa Indonesia mengetahui bahwa tujuan kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia adalah untuk menguasai perdagangan rempah-rempah sekaigus menguasai daerah penghasilnya.
Kerajaan yang melakukan kerja sama dengan bangsa Portugis adalah Hitu dan Ternate. Namun, kerja sama menjadi tegang karena Potugis melakukan kristenisasi terhadap kerajaan yang beragama Islam dan adanya sikap orang-orang Portugis yang seringkali tidak menghormati adat istiadat setempat.
Sikap gigih menentang Portugis terus dipertahankan oeh rakyat Ternate terutama setelah tampilnya Sultan Baabullah (1570-1583) dan putranya Sultan Said. Bangsa Indonesia di Maluku diperkenalkan dengan agama Katolik oleh bangsa Potugis. Indonesia juga diperkenalkan budaya Portugis.
2. Pertemuan Awal bangsa Indonesia dengan Bangsa Belanda
a. Pertemuan di Jawa
Setelah bersaing dengan bangsa Portugis, bangsa Indonesia juga harus berhadapan dengan bangsa Eropa lainnya, yaitu bangsa Belanda. Oleh karena bersikap kasar dan melakukan penghinaan terhadap penduduk di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahinya, dia kehilangan banyak awak.
b. Pertemuan di Maluku
Petualang dari Belanda akhirnya datang juga di Maluku. Akibat dari kekayaan rempah-rempah yang dimilikinya, warga Maluku harus menerima banyak kapal dagang Belanda, baik yang berminat untuk berdagang ataupun yang ingin menguasai sumbernya.
C. Munculnya dan Berkembangnya Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia
1. Jatuhnya Jaringan Perdagangan Islam di Indonesia
Jaringan perdagangan Indonesia, terutama yang diperlopori oleh para pedagang Islam, mengalami kehancuran akibat monopoli perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Portugis dan Belanda.
Hak octrooi yang diberikan kepada VOC yaitu:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan.
b. VOC memperoleh hak untuk mencetak dan mengeluarkan uang sendiri.
c. VOC dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia.
d. VOC berhak mengadakan perjanjian.
e. VOC berhak memaklumkan perang dengan nama lain.
f. VOC berhak menjalankan kekuasaan kehakiman.
g. VOC berhak mengadakan pemungutan pajak.
h. VOC berhak memiliki angkatan perang sendiri.
i. VOC berhak mengadakan pemerintahan sendiri.
Akibat hak-hak monopoli yang dimilikinya, VOC bisa memaksakan kehendaknya pada perusahaan-perusahaan perdagangan Indonesia. Untuk mempertahankan monopoli perdagangannya, kekuatan militer pun ditingkatkan.
VOC mengalami kemunduran yang disebabkan: merajalelanya korupsi pada para pegawai VOC kuatnya persaingan di antara kongsi-kongsi perdagangan lain terlalu banyak biaya untuk menumpas berbagai pemberontakan rakyat dan meningkatnya kebutuhan untuk gaji pegawai VOC.
Menuru Ricklefs, kemunduran VOC disebabkan:
“Meskipun VOC merupakan organisasi milik Belanda, tetapi sebagian besar anggotanya bukanlah orang Belanda. Para petualang, gelandangan, penjahat, dan orang-orang yang bernasib jelek dari seluruh Eropalah yang mengucapkan sumpah setia pada VOC. Ketidakberdayagunaan, ketidakjujuran, nepotisme, dan alakoholisme tersebar luas dikalangan anggota VOC.”
Hal itu pula yang melatarbelakangi sikap operasional VOC terhadap bangsa pribumi yang cenderung kejam, sewenang-wenang, dan tanpa kompromi.
2. Indonesia pada Masa Pemerintahan Herman Willem Daendels (1808-1811)
Indonesia yang terletak jauh dari kawasan Eropa ternyata pernah menjadi bagian dari konflik antarnegara Eropa. Pemerintah Kerajaaan Belanda yang sudah menjadi bagian dari Imperium Prancis harus berhadapan dengan Inggris, musuh Napoleon Bonaparte yang belum dapat ditaklukkan.
Sementara itu, di Indonesia, kedudukan Belanda yang sudah jatuh ke Prancis sangant terancam. Untuk kepentingan perang Prancis dengan Inggris, bangsa Indonesia harus menghadapi penderitaan di bawah pemerintahan Daendels. Untuk membiayai proyek tersebut, rakyat dibebani dengan pajak-pajak tertentu yang cukup besar. Dengan demikian, sistem wajib penyerahan model VOC diteruskan oleh Daendels.
Kehidupan keraton di Jawa juga terancam akibat ulah Daendels. Demikian juga dengan intervensinya terhadap kehidupan di Yogyakarta yang menimbulkan keresahan di kalangan keraton.
3. Indonesia pada Masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816)
Serangan terhadap kekuasaan Imperium Prancis di Indonesia terbukti pada 1811. Pada 8 Agustus 1811, 60 kapal Inggris melakukan serangan ke Batavia. Akhirnya Batavia dan daerah-daerah sekitanya jatuh ke tangan Inggris pada 26 Agustus 1811.
Mungkin tidak disadari bahwa pada masa penjajahan Inggris wilayah Indonesia secara ekonomis dan politis pernah bersatu dengan wilayah India. Raffles lebih bersifat liberal dalam menjalankan pemerintahannya.
Beberapa tindakan Raffles:
a. Menghapuskan sistem kerja paksa (rodi), kecuali untuk daerah Priangan dan Jawa Tengah;
b. Menghapuskan pelayaran hongi dan segala jenis tindak pemaksaan di Maluku;
c. Melarang adanya perbudakan;
d. Menghapus segala bentuk penyerahan wajib dan hasil bumi;
e. Melaksanakan sistem landrente stelsel (sistem pajak bumi), dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Membagi Pulau Jawa menjadi 16 Keresidenan;
b) Mengurangi kekuasaan para bupati;
c) Menerapkan sistem pengadilan dengan sistem juri.
Raffle menggambarkan dirinya sebagai seorang pembaru yang hebat(dalam buku History of Java yang ditulisnya).
D. Perubahan Ekonomi, Demografi, dan Sosial Budaya da Berbagai Daerah pada Masa Kolonial
1. Perubahan Ekonomi
Setelah kekuasaan Inggris berakhir, Indonesia kembali dikuasai oleh Belanda. Setelah mendapat kritikan dari kaum humanis dan kaum demokrat di negeri Belanda dan di Hindia Belanda, akhirnya Sistem Tanam Paksa dihapuskan pada 1870.
Akibat dari dilaksanakannya Sistem Ekonomi terbuka bangsa-bangsa diluar Belanda, seperti Inggris, Belgia, Prancis, Amerika Serikat, Cina, dan Jepang berdatangan ke Indonesia. Dengan adanya Sistem Ekonomi Terbuka, perkebunan di Jawa dan Sumatra berkembang dengan pesat.
Dengan demikian, eksploitasi terhadap penduduk pribumi tetap berjalan, walaupun dengan menggunakan sistem ekonomi modern, Sistem Ekonomi Terbuka. Pada 1881, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Koelie Ordonantie yang mengatur para kuli.
Kuli Ordonantie mendapat kecaman dari Amerika Serikat. Masuknya bangsa Eropa ke perairan Indonsesia terisolasi di laut sehingga kehidupan berkembang ke daerah pedalaman. Dengan feodalisme, rakyat pribumi, terutama di wilayah-wilayah pedesaan, dipaksa untuk tunduk dan paruh terhadap para tuan tanah Belanda dan Timur Asing yang dijaga oleh para centeng penguasa lokal/pribumi.
Penderitaan penduduk Indonesia dikritisi oleh kaum humanis Belanda. Menurut Van Devender ada tiga cara untuk menyehatkan, mencerdaskan dan memakmurkan rakyat Indonesia, yakni memajukan pengajaran (edukasi), memperbaiki pengairan (irigasi), dan melakukan perpindahan penduduk (transmigrasi). Gagasan ini disebut Politik etis.
Pada awalnya, pemerintah Belanda tidak langsung menerima gagasan Van Deventer, tetapi lambat laun dijalankan juga. Meskipun hasil Politik Etis lebih diarahkan untuk kepentingan kolonial Belanda, sebagian rakyat Indonesia memperoleh manfaat.
2. Komersialisasi Ekonomi dan Perubahan Sosial di Pedesaan dan Perkotaan
Setelah Sistem Tanam Paksa dihapuskan pada 1870, pemerintah kolonial menerapkan sistem ekonomi baru yang lebih liberal. Dalam sistem perburuhan dikeluarkan aturan yang ketat.
Walaupun Wajib kerja dihapuskan sesuai dengan semangat liberalisme, pemerintah kolonial menetapkan pajak kepala pada 1882. Di bidang ekonomi, penetrasi kapitalisme sampai pada tingkat individu, baik di pedesaan maupun di perkotaan.
3. Perubahan Demografi
a. Pendidikan dan Mobilitas Sosial di Berbagai Daerah
Pendidikan yang berkembang di Indonesia pada abad ke-19 menggunakan sistem yang diselenggarakan oleh organisasi agama Kristen, Katolik, dan Islam.
Sistem Pendidikan Islam dilaksanakan melalui pondok pesantren dengan kurikulum yang terbuka serta staf pengajar yang berasal dari para kiai. Bersamaan dengan berkembangnya sistem pendidikan pesantren berkembang pula sistem pendidikan Barat.
Sistem pendidikan yang dijalankan pemerintah kolonial menggunakan sistem Barat dengan menyediakan tempat berupa sekolah, kurikulum serta guru dengan jadwal teratur. Bahasa yang digunakan dalam sekolah gubernemen adalah bahasa Sunda, Jawa, Madura atau Melayu, bergantung dari asal lokasi sekolah tersebut.
Antar 1873-1883 dicipai kemajuan dalam bidang pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa dan guru.
Menurut Sartono Kartodirjo, perkembangan pendidikan abad ke-19 dipengaruhi oleh kecenderungan politik dan budaya:
1) Pengajaran bersifat netral dan tidak didasarkan atas agama tertentu. Hal ini dipengaruhi oleh paham humanis dan liberalis di negara Belanda.
2) Bahasa pengantar diserahkan kepada sekolah masing-masing sesuai kebutuhan. Misalnya, jika murid pribumi menghendaki bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya, sekolah harus memenuhinya.
3) Sekolah-sekolah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis pekerjaan kejuruan.
4) Sekolah pribumi diarahkan agar lebih berakar pada kebudayaan setempat. Oleh karena itu, bahasa daerah dijadikan sebagai bahasa pengantar.
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pangreh praja (birokrasi pemerintah), didirikan hoofdenschool di Bandung, Magelang, Probolinggo, dan Tondano pada 1878. Di tingkat perguruan tinggi didirikan sekolah pertanian di Bogor, sekolah dokter hewan di Surabaya, sekolah bidan di Weltervreden, dan sekolah mantri cacar di Jakarta yang kemudian berubah menjadi Sekolah Dokter Jawa.
Memasuki abad ke-20, sejarah Indonesia ditandai dengan semakin banyaknya orang terpelajar yang mendapat pendidikan Belanda.
b. Mobilitas Penduduk pada Akhir Abad Ke-19 dan Awal Abad Ke-20
Mobilitas penduduk mempunyai pengertian pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain.
Sebab-sebab terjadinya:
1) Sistem ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah kolonial melalui Tanam Paksa serta sistem kapitalisme menurut Undang-Undang Agraria pada 1870 mengakibatkan terjadinya mobilitas tenaga kerja dari tempat tinggal mereka ke daerah perkebunan, baik yang berada dalam satu pulau maupun antar pulau.
2) Dibangunnya jaringan jalan raya, jalan kereta api, serta perhubungan laut dengan menggunakan kapal api.
3) Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota. Pada akhir abad ke19 lahirlah kota-kota baru di pedalaman serta pesisir pantai.
4) Pembangunan pendidikan telah mempercepat mobilitas penduduk .
4. Kehidupan Keagamaan dan Sosial Budaya
a. Kebijakan Pemerintah Kolonial terhadap Kehidupan Agama
Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia berkaitan dengan penyebaran dua aliran besar agama yaitu, Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Kedatangan agama Protestan di Indonesia dibawa oleh para Zending atau penyebar Protestan, terutama orang-orang Belanda yang tergabung dalam Nederlandsch Zendelings Genootschap (NZG).
Pada Masa Kolonial, pemerintah Belanda mengeluarkan kebijaksanaan yang menghambat perkembangan agama, terutama islam. Kebijakan di bidang sosial-budaya keagamaan dianggap tidak membahayakan kedudukan pemerintah kolonial. Akibat dari kebijakan pemerintah kolonial dalambidang keagamaan, terutama Islam, telah menimbulkan kebangkitan Islam yang ditandai dengan munculnya pemikiran-pemikiran pembaruan dalam Islam.
b. Kedudukan dan Kehidupan Perempuan pada Masa Kolonial
Kedudukan kaum perempuan pada abad ke-19 masih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki. Keterlibatan kaum wanita dalam pergerakan nasional pada mulanya hanya berupa pergerakan sosial yang memperjuangkan kedudukan wanita dalam masyarakat.
Pergerakan emansipasi wanita dipelopori oleh R.A. Kartini, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis. Pada abad ke-19, tradisi pembelengguan perempuan masih cukup kuat. Menurut Wiriaatmadj, Tradisi pingitan tersebut lebih menonjol pada anak gadis dari golongan bangsawan atau priyayi.
Setelah dibukanya daerah perkebunan menurut sistem ekonomi kapitalis, kegiatan prostitusi di tempat itu makin marak. Penderitaan yang berat yang dialami kaum perempuan di perkebunan semakin diperkuat oleh diberlakukannya peraturan yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Linda Crystanty menyatakan bahwa kedatangan para pria Eropa sebagai pemilik modal di daerah perkebunan yang tidak diikuti istri-istri mereka berpengaruh terhadap kehidupan perempuan pribumi di lingkungan perkebunan.
Melaluinyai, orang Eropa dapat lebih mudah mempelajari kebudayaan pribumi. Namun demikian, posisi mereka tetap rawan. Sepeningga tuannya, para nyai dihadapkan pada pilihan sulit. Menurut Cahyo Budi Utomo, secara biologis ada dua jenis gerakan perempuan pada masa-masa awal abad XX, yakni organisasi lokal kedaerahan dan organisai keagamaan.
Putri Mardiko merupakan organisasi keputrian tertua yang merupakan bagian dari Budi Utomo. Berdiri pada 1912. Tujuan : memberikan bantuan, bimbingan, dan penerangan pada gadis pribumi dalam menuntut pelajaran dan menyatakan pendapat di muka bumi.
Setalah Putri Mardiko berdiri, lahirlah berbagai organisasi perempuan, baik yang dibentuk sendiri oleh kaum perempuan maupun organisai yang beranggotakan kaum pria. Salah satu organisai keagamaan yang memerhatiakan masalah kedudukan perempuan adalah organisai Aisyiyah.
Menurut Sukanti Suryocondro dalam bukunya yang ditulis oleh T.O. Ihronmi yang berjudul Kajian Perempuan dalam Pembangunan (1995), organisai-organisasi tersebut bergerak dalam bidang sosial dan kultural, yaitu memperjuangkan nilai-nilai beru dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
E. Perlawanan daerah Menentang Dominasi Asing
Kedatangan bangsa Barat (Potugis, Spanyol, Belanda) yang diikuti dengan jatuhnya bangsa Indonesia pada bangsa-bangsa tersebut menimbulkan reaksi.
1. Perlawanan Sebelum Tahun 1800
Perlawanan bangsa Indonesia sebelum tahun 1800 ditandai dengan perang atau perlawanan langsung terhadap kekuasaan bangsa barat. Perlawanan tersebut juga ditandai dengan persaingan diantara kerajaan-kerajaan Indonesia dalam rangka memperebutkan hegemoni di kawasan tersebut.
a. Perlawanan Rakyat Maluku
Upaya rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun maupun Sultan Baabullah (1575) sejak kedatangan bangsa Portugis di kawasan itu pada 1512 tidak berhasil.
b. Perlawanan Rakyat Demak
Sama halnya perlawanan rakyat Demak yang dipimpin oleh Dipati Unus terhadap kekuatan Portugis di Malaka. Perlawanan ini pun tidak mendapat dukungan dari kerajaan-kerajaan di kawasan Sumatra, Jawa, dan Kalimatan.
c. Perlawanan Rakyat Mataram
Kerajaan Mataram di Jawa juga melakukan hal yang sama. Sultan Agung mempunyai cita-cita untuk mempersatukan wilayah Pulau Jawa dalam kekuasaannya berusaha mengalahkan VOC di Batavia (Jakarta).
d. Perlawanan Rakyat Banten
Konflik dalam urusan kerajaan serta persaingan dalam takhta kerajaan juga menyebabkan perlawanan terhadap kekuasaan Barat mengalami kegagalan.
e. Perlawanan Rakyat Makassar
Di Pulau Sulawesi, perlawanan untuk mengusir kekuatan VOC juga tidak berhasil. Untuk memperkuat kedudukannya di Sulawesi, Sultan Hasanuddhin menduduki Sumbawa sehingga jalur perdagangan di Nusantara bagian timur dapat dikuasainya.
Untuk menghadapi Sultan Hasanuddin, Belanda meminta bantuan dari Aru Palaka yang bersengketa dengan Sultan Hasanuddin. Dan Makassar jatuh ke tangan Belanda dari Sultan Hasanuddin harus menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667.
f. Perlawanan Untung Surapati
Pemberontakan Untung Surapati berlangsung pada 1686 sampai dengan 1706. Pada 1703, Sunan Amangkurat II meninggal, kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat III.
Paman Sunan Amangkurat III yang bernama Pangeran Puger menginginkan takhta untuk menjadi raja di Mataram. Setelah itu, dimulailah peperangan antara Sunan Pakubuwono I dan Untung Surapati yang dibantu oleh Sunan Amangkurat III. Pada 1706, VOC akhirnya berhasil melumpuhkan kekuasaan Untuk Surapati di Kartasura.
2. Perlawanan Sesudah Tahun 1800
Tidak banyak perbedaan antara latar belakang serta karakteristik perlawanan terhadap kekuasaan Barat sebelum tahun 1800 dan setelah tahun 1800.
a. Perlawanan Sultan Nuku (Tidore)
Sultan Nuku yang merupakan raja dari Kesultanan Tidore memimpin perlawanan rakyatnya terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Untuk menghadapi Belanda, dia mengadakan hubungan dengan Inggris dengan tujuan meminta bantuan dan dukungan.
b. Perlawanan Pattimura (1817)
Perlawanan yang dipimpin oleh Pattimura dimulai dengan penyerangan terhadap Benteng Duurstede di Saparua dan berhasil merebut benteng tersebut dari tangan Belanda. Akhirnya, Pattimura berhasil ditangkap dalam suatu pertempuran dan pada 16 Desember 1817 Pattimura dan kawan-kawannya dihukum mati di tiang gantung.
c. Perang Paderi (1821-1837)
Perang Paderi dilatarbelakangi konflik antara kaum agama dan tokoh-tokoh adat Sumatra Barat. Pertentangan ini kemudian berkembang menjadi perang saudara. Pada 1819, Belanda menerima Padang dan daerah sekitarnya dari Inggris.
Pertempuran pertama antara Kaum Paderi dan Belanda terjadi pada April 1821 di daerah Sulit Air, dekat Danau Singkarak, Solok. Ketika terjadi Perang Diponegoro, pihak Belanda menarik sebagian besar pasukannya dari Sumatra Barat dan sementara waktu menunda penyerangannya pada Kaum Paderi.
Pada 25 Oktober 1833, Belanda mengeluarkan maklumat yang disebut Plakat Panjang. Baru pada 25 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol tiba di Palupuh untuk berunding. Namun, Belanda berkhianat dengan menangkap Tuanku Imam Bonjol dan membuangnya ke Cianjur, kemudian Ambon, dan terakhir ko Lota dekat Manado. Wafat usia 92, dimakam di Tomohon, Sulawesi Utara.
d. Perang Diponegoro (1825-1830)
Sebab : rasa tidak puas yang hampir merata di kalangan masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah Belanda diwilayah Yogyakarta. Pemerintah kolonial Belanda bermaksud membuat jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang.
Pangeran Diponegoro dan pasukannya membangun pusat pertahanan di Selarong. Sampai 1826, pasukan Diponegoro berhasil membuat kemenangan. Sejak 1829, kekuatan Diponegoro mulai berkurang, banyak pengikut Diponegoro yang ditangkap ataupun gugur dalam pertempuran.
Jenderal de Kock memerintahkan Kolonel Cleerens untuk mencari kontak dengan Pangeran Diponegoro.
e. Perang Aceh
Seperti halnya pada zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Kerajaan Aceh mengalami kejayaan kembali pada abad ke-18 sampai abad ke-19. Oleh karena kemampuan diplomatik, kedudukan Aceh dihormati oleh dua kekuasaan kolonial yang berada di sekitar wilayah Aceh, yaitu Inggris dan Belanda melalui Traktat London pada 1824.
Melihat gelagat ini, Aceh mulai mencari bantuan dan dukungan ke luar negeri. Serangan kedua dilakukan Belanda pada Desember 1873 dan berhasil merebut istana Kerajaan Aceh. Pada 1891, Aceh kehilangan tokoh pejuangnya, yaitu Teuku Cik Ditiro.
Pada November 1902, Belanda mengkap keluarga Sultan Aceh. Belanda menganggap dengan menyerahnya Sultan Aceh, perlawanan rakyat telah selesai.
f. Perang Bali
Sebelum abad ke-19, Pulau Bali dikuasai oleh beberapa kerajaan kecil yang seluruhnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Klungkung. Pada 1844, perahu dagang milik Belanda terdampar di Prancak wilayah Kerajaan Buleleng dan terkena Hukum Tawan Karang yang memberi hak kepada penguasa kerajaan untuk menguasai kapal beserta isinya.
Pada serangan yang kedua (1849), paasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Mayor A.V. Michies dan Van Swieeten berhasil merebut benteng pertahanan terakhir Kerajaan Buleleng di Jagaraga, yang dikenal dengan nama Puputan Jagaraga.
Setelah Buleleng ditaklukkan, Belanda mulai menaklukkan kerajaan-kerajaan di Bali lainnya. Selain Puputan Jagaraga, puputan lain yang pernah terjadi di Bali.
g. Perang Banjarmasin
Sultan Adam menyatakan secara resmi hubungan antara Kesutanan Banjarmasin dan Belanda pada 1826. Sepeninggal Sultan Adam, di Kerajaan Banjarmasin terjadi perebutan kekuasaan yang menyebabkan terpecahnya keluarga kerajaan ke dalam tiga kelompok:
1) Kelompok Pangeran Tamjid Illah(cucu Sultan Adam) => mempunyai hubungan erat dengan Belanda.
2) Kelompok Pangeran Anom(putra Sultan Adam) => tindakannya sewenang-wenang.
3) Kelompok Pangeran Hidayatullah(cucu Sultan Adam)=> disenangi dan didukung oleh rakyat
Ditengah kekacauan, terjadilah Perang Banjarmasin pada 1889 yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Pada 1862. Pangeran Hihayatulla dapat ditangkap dan kemudian dibuang ke Cianjur. Perlawanan terjadi di Sumatra Utara dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja XII.
Walaupun satu-persatu kekuatan di daerah berhasil ditaklukkan Belanda, perlawanan kerajaan di Indonesia berlangsung hingga akhir abad ke-19, perlawanan kerajaan di Indonesia berlangsung hingga akhir abad ke-19, perlawanan kongsi Cina di Kalimantan Barat pada 1848-1859
No comments:
Post a Comment